Komet yang Ditunggu Jutaan Orang Ini Tiba-tiba Lenyap โ€” Ilmuwan Mulai Berburu Sisanya

Komet yang Ditunggu Jutaan Orang Ini Tiba-tiba Lenyap โ€” Ilmuwan Mulai Berburu Sisanya

Awal tahun 2020, dunia astronomi sedang berdebar-debar. Sebuah komet baru ditemukan, dan prediksi awalnya bikin merinding: komet ini berpotensi jadi salah satu yang paling terang dalam sejarah modern, bahkan bisa terlihat di siang hari dengan mata telanjang. Namanya C/2019 Y4, atau lebih akrab disebut Komet ATLAS.

Tapi alam semesta, seperti biasanya, punya humor tersendiri.

Warisan dari 180 Tahun Silam

Komet ATLAS pertama kali terdeteksi pada 28 Desember 2019 oleh sistem pemantau langit ATLAS (Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System). Begitu datanya dianalisis, seorang astronom bernama M. Meyer menemukan sesuatu yang mengejutkan: lintasan komet ini hampir identik dengan komet legendaris C/1844 Y1 โ€” sebuah "Komet Agung" yang pernah menerangi langit 180 tahun sebelumnya.

Artinya? Keduanya kemungkinan berasal dari benda langit yang sama, yang pecah entah kapan di masa lalu jauh sebelum manusia modern ada. ATLAS adalah adik โ€” atau mungkin sepupu โ€” dari sang Komet Agung 1844.

Dengan perihelion hanya 0,25 AU dari Matahari (seperempat jarak Bumi-Matahari), semua perhitungan menunjukkan ATLAS bisa menjadi tontonan langit yang luar biasa. Media sains di seluruh dunia ramai. Penggemar astronomi dari berbagai penjuru bumi sudah bersiap dengan kamera dan teleskop mereka.

Kehancuran yang Tak Terduga

Tapi semuanya berubah di April 2020. Saat ATLAS masih berjarak sekitar 1 AU dari Matahari โ€” tepat di sekitar orbit Bumi โ€” komet ini mulai retak dan hancur berkeping-keping. Bukan pelan-pelan. Dalam waktu singkat, ia terpecah menjadi setidaknya empat fragmen besar: A, B, C, dan D.

Tim peneliti sempat mengamatinya menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble selama tiga hari. Hasilnya mengungkap drama yang luar biasa:

  • Fragmen B adalah yang paling tangguh โ€” sebuah kumpulan mini-komet yang terang dan relatif bertahan lama. Ini kemungkinan mewakili bagian "inti" yang lebih keras dan lebih kering dari komet aslinya.
  • Fragmen A lebih terang di awal, tapi ganas: dalam tiga hari saja ia kehilangan 70% massanya. Para ilmuwan menduga fragmen ini sudah lenyap total bahkan sebelum mencapai Matahari.
  • Fragmen C ternyata hanya artefak data โ€” bukan benda nyata.
  • Fragmen D hidup hanya sekitar seminggu sejak fragmen terbentuk, lalu menghilang.

Pengamatan terakhir yang berhasil tercatat dilakukan pada 8 Juni 2020 oleh wahana antariksa STEREO-A โ€” sembilan hari setelah komet melewati titik terdekatnya dengan Matahari. Yang terlihat: tidak ada inti yang jelas. Hanya sisa-sisa yang memudar. Lalu senyap.

Misi Pencarian: Masih Ada atau Sudah Tiada?

Inilah pertanyaan yang menghantui para peneliti. Apakah ATLAS benar-benar musnah total, atau ada serpihan yang masih melayang di suatu tempat di luar sana? Salvatore A. Cordova Quijano bersama Quanzhi Ye dan Michael S. P. Kelley yang berasal dari universitas di Amerika Serikat pun memulai misi pencarian. Mereka menggunakan dua "mata":

  • Lowell Discovery Telescope (LDT) โ€” teleskop bertenaga tinggi di Arizona, dipakai untuk mengintip posisi fragmen B secara detail pada dua waktu: Agustus dan Oktober 2020, sekitar 3โ€“5 bulan setelah kehancuran. Teknik yang dipakai cukup canggih: puluhan foto ditumpuk dan bintang-bintang latar dihapus secara digital, agar objek redup seperti sisa komet bisa terlihat lebih jelas.
  • Zwicky Transient Facility (ZTF) โ€” sistem survei otomatis di Observatorium Palomar yang memindai langit secara luas. Meskipun tidak sedalam LDT, ZTF memantau area yang jauh lebih luas dan dalam rentang waktu yang lebih panjang โ€” berguna untuk mencari apakah ada fragmen yang tiba-tiba "menyala" kembali karena semburan gas atau debu.

Hasilnya: Lebih Kecil dari yang Dibayangkan

Dari LDT, tim berhasil menetapkan batas atas ukuran fragmen B: diameternya kurang dari 0,5 km. Dibandingkan pengukuran sebelum perihelion yang memperkirakan ukurannya sekitar 1,2 km, ini penurunan yang dramatis. Artinya fragmen B terus hancur bahkan setelah melewati Matahari.

Dan dari data ZTF yang memantau wilayah lebih luas? Tidak ada apa-apa. Fragmen A maupun B tidak terdeteksi sama sekali. Ada dua kemungkinan: mereka sudah benar-benar lenyap, atau tubuhnya terlalu kecil dan tidak aktif untuk bisa terlihat oleh instrumen manapun saat itu.

Bahkan perhitungan menunjukkan bahwa kalau fragmen A pun masih ada, ukurannya paling besar hanya sekitar 2 km โ€” jauh di bawah perkiraan sebelumnya.

Pertanyaan yang Lebih Besar: Berapa Banyak Komet "Mati" yang Belum Benar-benar Mati?

Di sinilah penelitian ini menjadi jauh lebih menarik dari sekadar kisah satu komet. Para peneliti meninjau enam komet periode panjang lain yang dalam satu dekade terakhir juga diduga telah hancur. Hasilnya mengejutkan:

KometNasib
C/2001 A2 (LINEAR)Inti utama selamat
C/2010 X1 (Elenin)Terkonfirmasi hancur total
C/2012 S1 (ISON)Diduga hancur โ€” belum dikonfirmasi
C/2017 E4 (Lovejoy)Diduga hancur โ€” belum dikonfirmasi
C/2019 Y4 (ATLAS)Penelitian ini
C/2020 F8 (SWAN)Diduga hancur โ€” belum dikonfirmasi
C/2021 A1 (Leonard)Terkonfirmasi hancur total

Setengah dari kasus ini belum pernah dikonfirmasi secara ilmiah. Kita hanya menduga mereka hancur, tapi tidak ada yang benar-benar mencari sisanya dengan serius. Apakah ada di antaranya yang masih melayang sebagai batu beku mati di suatu sudut Tata Surya yang belum terjangkau teleskop kita?

Untuk ATLAS sendiri, para peneliti menyebut bahwa seandainya ada pencarian yang lebih dalam dilakukan segera setelah Agustus 2020 โ€” tepat setelah komet keluar dari "zona buta" dekat Matahari โ€” jawabannya mungkin sudah jauh lebih jelas.

Komet yang Mengajarkan Kerendahan Hati

Komet ATLAS datang dengan gemerlap janji, lalu pergi tanpa pamit โ€” menyisakan lebih banyak tanda tanya dari yang dijawabnya. Tapi mungkin itulah poinnya. Astronomi bukan tentang tontonan yang selalu sesuai ekspektasi. Ia tentang keberanian untuk terus mencari, bahkan ketika yang dicari sudah nyaris tak terlihat. Tentang memasang teleskop ke titik kekosongan di langit, dan bertanya dengan serius: masih adakah sesuatu di sana?

Kadang jawabannya adalah kesunyian. Dan kesunyian itu sendiri sudah merupakan sebuah penemuan.


Ditulis berdasarkan: Cordova Quijano, S. A., Ye, Q., & Kelley, M. S. P. (2025). Disintegration of Long-period Comet C/2019 Y4 (ATLAS). II. Post-Perihelion Remnant Recovery. arXiv:2512.01169v1