Pernahkah kamu membayangkan bahwa galaksi kita, Bima Sakti, punya semacam "halo" bintang di sekelilingnya? Nah, para astronom baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik tentang halo bintang ini: ternyata bentuknya terpelintir dan memiliki dua titik patahan yang jelas. Penemuan ini datang dari data terbaru survei DESI (Dark Energy Spectroscopic Instrument).
Apa Itu Halo Bintang?
Bayangkan Bima Sakti seperti telur mata sapi โ ada bagian kuning (pusat galaksi dan cakram), dan ada bagian putih yang menyebar di sekitarnya. Nah, bagian "putih" inilah yang disebut halo bintang. Meskipun hanya mengandung sekitar 2% dari total massa bintang di Bima Sakti, halo ini sangat penting karena menyimpan catatan sejarah tentang bagaimana galaksi kita terbentuk โ terdiri dari bintang-bintang tua sisa galaksi kerdil yang pernah "dimakan" oleh Bima Sakti.
Penemuan Besar: Halo yang Terpelintir
Tim peneliti yang dipimpin oleh Songting Li dari Shanghai Jiao Tong University menggunakan 28.000 bintang raksasa tipe K dari survei DESI, mencakup jarak 8 kpc hingga 200 kpc dari pusat Bima Sakti.
Catatan penting soal satuan jarak: Semua jarak dalam artikel ini dinyatakan dalam kpc (kiloparsec) dan diukur dari pusat Bima Sakti โ bukan dari Bumi. Ini disebut galactocentric distance. Sebagai patokan: 1 kpc โ 3.260 tahun cahaya, dan Matahari kita sendiri berjarak sekitar 8 kpc dari pusat Bima Sakti.
Hasilnya mengejutkan. Halo bintang ternyata:
- Berbentuk triaksial (seperti bola rugby yang sedikit gepeng) dengan perbandingan sumbu 10:8:7
- Sumbu utamanya miring 43 derajat dari bidang cakram Bima Sakti
- Punya dua titik patahan kepadatan bintang: di sekitar 16 kpc dan 76 kpc dari pusat Bima Sakti
Yang Lebih Menarik: Bentuknya Berubah Seiring Jarak
Ternyata halo bintang tidak seragam โ bentuknya berubah tergantung jarak dari pusat Bima Sakti. Ini bagian yang paling bikin penasaran.
Halo bagian dalam (kurang dari ~30 kpc dari pusat Bima Sakti) berbentuk oblat โ seperti piring yang agak menggelembung. Sumbu panjangnya sejajar dengan cakram Bima Sakti. Bayangkan sebuah piring makan yang diletakkan rata di atas meja. Piring itu (halo bagian dalam) terbentang mendatar, sejajar dengan permukaan meja (cakram Bima Sakti). Gepeng, pipih, dan ikut "berbaring" bersama cakram.
Halo bagian luar (lebih dari ~30 kpc dari pusat Bima Sakti) berubah menjadi prolat โ seperti cerutu atau balon yang memanjang. Yang lebih mengejutkan, sumbu panjangnya kini tegak lurus terhadap cakram โ bintang-bintangnya tersebar ke atas dan ke bawah, bukan ke samping. Kembali ke analogi piring: ambil piring itu dan berdirikan secara vertikal. Itulah halo bagian luar โ tidak lagi gepeng dan mendatar, tapi memanjang dan berdiri tegak menembus bidang galaksi.
Jadi kalau kamu bisa melihat seluruh struktur dari luar, halo bintang terlihat seperti dua bentuk yang terpelintir 90 derajat satu sama lain โ "bengkok" di tengah-tengahnya!
Apa Penyebabnya?
1. Tabrakan dengan Gaia-Sausage/Enceladus (GSE)
Titik patahan pertama di ~16 kpc dari pusat Bima Sakti kemungkinan besar terkait dengan merger besar sekitar 8โ10 miliar tahun lalu. Sebuah galaksi kerdil bernama Gaia-Sausage/Enceladus pernah menabrak Bima Sakti, dan puing-puingnya masih terlihat hingga sekarang sebagai overdensitas bintang seperti Hercules-Aquila Cloud dan Virgo Overdensity.
2. Pengaruh Awan Magellan Besar (LMC)
Titik patahan kedua di ~76 kpc dari pusat Bima Sakti kemungkinan disebabkan oleh Awan Magellan Besar (LMC) โ galaksi kerdil yang sedang mengorbit Bima Sakti. Gravitasinya yang besar menciptakan "gelombang" dalam distribusi bintang halo. Para peneliti bahkan menemukan bukti baru dari collective density wake LMC โ overdensitas bintang di langit utara galaksi dengan puncak kepadatan pada jarak sekitar ~90 kpc dari pusat Bima Sakti.
Ketidakselarasan Besar dalam Struktur Bima Sakti
Salah satu temuan paling mengejutkan dari penelitian ini adalah bahwa berbagai komponen utama Bima Sakti ternyata tidak memiliki orientasi yang selaras. Alih-alih membentuk satu sistem yang teratur, komponen-komponen tersebut tampak terbagi menjadi dua kelompok dengan arah yang sangat berbeda.
Kelompok pertama terdiri dari cakram galaksi dan halo bagian dalam. Keduanya memiliki orientasi yang hampir sejajar, seolah berada pada bidang yang sama. Sebaliknya, kelompok kedua terdiri dari halo bagian luar dan kumpulan galaksi satelit Bima Sakti yang dikenal sebagai Vast Polar Structure (VPOS). Menariknya, kedua komponen ini juga memiliki orientasi yang saling sejajar, tetapi arahnya hampir tegak lurus terhadap kelompok pertama.
Mengapa? Para peneliti menduga momentum sudut cakram dan halo bagian dalam mungkin pernah "berputar balik" akibat masuknya satelit masif โ seperti gasing yang tiba-tiba berubah arah putarannya ketika ditabrak sesuatu.
Bintang Tua Lebih Tersebar
Temuan tambahan yang menarik: bintang-bintang halo dengan kandungan logam rendah (bintang lebih tua dan lebih primitif) tersebar lebih jauh dari pusat Bima Sakti. Ini karena bagian luar galaksi kerdil yang "dimakan" Bima Sakti โ yang umumnya lebih miskin logam โ terlepas lebih dulu dan tersebar lebih jauh, sementara bagian dalam galaksi kerdil yang lebih kaya logam baru terlepas belakangan.
Mengapa Ini Penting?
Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang sejarah pembentukan Bima Sakti โ seperti detektif yang menyusun puzzle dari puing-puing tabrakan kosmik. Dengan survei DESI yang belum selesai, data lengkap dalam lima tahun ke depan diprediksi akan mengurangi ketidakpastian pengukuran hingga setengahnya, memungkinkan pemahaman yang lebih tajam tentang asal-usul dan evolusi galaksi kita.
Halo bintang Bima Sakti ternyata bukan sekadar "aura" galaksi yang polos. Ia adalah arsip hidup yang menyimpan cerita tentang tabrakan dahsyat miliaran tahun lalu โ dan masih terus berubah hingga hari ini karena pengaruh tetangga-tetangganya.
Ditulis berdasarkan: Li, S., Wang, W., Koposov, S. E., et al. (2026). The Milky Way stellar halo is twisted and doubly broken: insights from DESI DR2 Milky Way Survey observation. arXiv:2512.01350v3